Ketika Ghandhi meninggalkan panggung kekuasaan politik pada tahun 1946 untuk emgunjungi daerah-daerah yang dilanda kerusuhan di India, ia sudah berusia tujuh puluh tahun. Jadwal kegiatannya boleh dikatakan sangat kejam. Ia bekerja antara lima belas sampai delapan belas jam sehari dan berjalan kaki sejauh 175 km dalam enam puluh hari hanya untuk meghibur para korban di empat puluh enam desa. Di sana di tengah-tengah kebuasan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, hadir seorang tua renta dengan keberanian untuk memenuhi komitmennya terhadap kebenaran dan pantang kekerasan. Ia meminta kepada para korban kekerasan untuk memaafkan, dan, di saat yang sama, meminta kepada mereka yang mengobarkan kekerasan untuk menyesali perbuatannya.
Setelah kunjungannya mengelilingi desa-desa di Bengal dengan berjalan kaki berakhir, Gandhi berangkat ke Bihar, Calcuta dan Delhi, dengan misi yang sama. Tahun-tahun pengabdian dan kesengsaraannya itu dipandang sebagai prestasi terbesar Gandhi. Melalui komitmennya untuk melakukan pengabdian secara pribadi, Gandhi membawa ketentraman bagi kehidupan masyarakat di Bengal dan Cakcutta di perbatasan India dengan Pakistan, sementara tentara yang terdiri dari lima puluh ribu tentara tak mampu melakukan hal yang sama di provinsi perbatasan Punjab. Lord Mountbatten, raja muda di India, menyebut Gandhi sebagai “kekuatan pasukan saya di perbatasan yang terdiri dari satu orang.”



1 komentar:
dahsyat dah..
Posting Komentar